Tanggap Darurat Kabut Asap , Dinkes Barito Selatan Himbau Warga Waspada

IMG-20261016-WA0013

Barito Selatan,// Dampak buruk kebakaran hutan dan lahan yang berlangsung lebih dari dua bulan di Kabupaten Barito Selatan mulai merenggut nyawa manusia. Berdasarkan pemaparan dalam konferensi pers BPBD dan Dinas Kesehatan yang berlangsung di Aula Kantor BPBD, Jumat (16/10/2026), telah tercatat dua kasus kematian yang diduga kuat berhubungan langsung dengan paparan kabut asap. Pertemuan ini dipimpin oleh Kepala BPBD Agus In’Yulius dan Kepala Dinas Kesehatan dr. Dadang Baskoro Nugroho.
16/10/2026

Agus In’Yulius mengungkapkan rasa prihatin mendalam atas kejadian tersebut yang langsung disampaikan oleh Bupati Barito Selatan. “Tadi malam Bapak Bupati menghubungi saya secara langsung menanyakan perkembangan berita adanya korban jiwa akibat kabut asap. Berdasarkan laporan yang masuk, ada bayi berusia 6 bulan dan seorang petugas P3K di lingkungan Sekretariat Daerah yang meninggal dunia. Kejadian ini harus menjadi cambuk bagi kita semua untuk lebih serius menangani masalah ini, karena dampaknya sudah nyawa manusia yang menjadi taruhannya,” ujar Agus.

Ia kembali mengingatkan bahwa kebakaran ini murni akibat ulah tangan manusia yang tidak bertanggung jawab. “Tidak ada kebakaran besar tanpa adanya api awal. Titik panas yang mencapai ribuan setiap bulannya adalah bukti masih banyaknya warga atau pihak yang sengaja membakar hutan dan lahan. Kami berharap media massa dapat membantu menyebarkan pesan ini: berhenti membakar, karena dampaknya kembali kepada kita sendiri, kepada anak-anak kita, dan orang-orang yang kita cintai,” tegasnya.

Agus menambahkan bahwa meski sudah tiga kali menetapkan status siaga darurat dan mengerahkan seluruh kekuatan, angka kebakaran masih belum bisa ditekan hingga nol. “Kami sudah berjuang habis-habisan, mulai dari pemadaman darat hingga penggalangan bantuan. Namun jika sumber apinya masih ada, maka api akan terus muncul kembali. Oleh sebab itu, kunci utama penyelesaian masalah ini ada di kesadaran masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran sama sekali,” tambahnya.

dr. Dadang Baskoro Nugroho kemudian memberikan penjelasan teknis mengenai kondisi kesehatan masyarakat saat ini dan langkah antisipasi yang harus diambil. “Kabut asap mengandung partikel halus yang bisa masuk hingga ke saluran pernapasan terdalam. Bagi orang yang sehat saja bisa menyebabkan batuk dan sesak, apalagi bagi bayi, lansia, atau mereka yang punya riwayat penyakit paru. Dua kasus meninggal kemarin adalah akibat gangguan pernapasan berat yang diperburuk oleh kualitas udara yang sangat buruk,” jelas Dadang.

Ia juga menguraikan pembagian tugas fasilitas kesehatan agar masyarakat tahu ke mana harus mencari bantuan. “Sistem pelayanan kami terbagi dua: 12 Puskesmas berperan melakukan pencegahan, penyuluhan kesehatan, dan penanganan ringan, sedangkan Rumah Sakit Daerah menangani kasus rujukan dan perawatan intensif. Kami imbau warga untuk segera datang ke fasilitas kesehatan terdekat jika merasa tidak enak badan, sesak napas, atau mata perih. Mari kita kurangi risiko dengan menjaga kebersihan lingkungan dan kesehatan diri masing-masing,” pungkas Dadang. (Dirmanto,)